1.
Judul
Penelitian : PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK MANDIRI DAN BCA DENGAN GRAND
STRATEGY
2.
Penulis : Komang Wisnu
Angga Sukma dan Prof. Dr I Wayan Ramantha, S.E., M.M., Ak., CPA
3.
Nama Jurnal : E-jurnal Akuntansi
Universitas Udayana 11.1 (2015) : 130- 142
4.
Tahun Terbit : 2015
5.
Latar Belakang Penelitian :
Kondisi ekonomi
Indonesia saat ini yang penuh dengan persaingan dan ketidakstabilan, merupakan
salah satu faktor penghambat bagi kemajuan bangsa Indonesia. Hal tersebut
berimbas pada kinerja perbankan yang menyebabkan bank-bank umum maupun lembaga
keuangan lainnya berlomba-lomba menghimpun dana dari masyarakat. Dana yang
terkumpul dari masyarakat berupa tabungan, deposito, dan giro yang merupakan
sumber dana bank.
Tabungan
merupakan simpanan yang penarikannya tidak dapat dilakukan dengan cek serta
memerlukan syarat-syarat tertentu berdasarkan kesepakatan. Sedangkan deposito
adalah simpanan yang dibuat berdasarkan perjanjian antara nasabah dan bank
mengenai waktu penarikannya (Kasmir: 2007). Dana-dana ini akan disalurkan
kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit. Kredit, tabungan dan deposito mampu
memberikan kontribusi terhadap kinerja perbankan (Khausik, dkk). Menurut Irfan
(2007), antara deposito, tabungan, maupun giro yang berasal dari dana pihak ketiga
merupakan sumber penyaluran kredit terbesar bagi bank serta mampu mempengaruhi
perubahan profitabilitas bank.
Strategy
adalah
suatu alat yang digunakan untuk membantu pemetaan kondisi perusahaan untuk
melihat kondisi perusahaan terhadap lingkungan internal dan eksternal yang
memberikan alternatif pilihan strategi berupa intensif, integrasi,
diversifikasi, divestasi, maupun likuidasi dalam mencapai tujuan perusahaan
baik jangka pendek dan jangka panjang. Sisi internal yang dinilai dalam
analisis Grand Strategy adalah posisi kompetitif perusahaan dengan
pesaingnya, sementara sisi ekternalnya dilihat dari perbandingan pertumbuhan
Industri perusahaan dengan batas ukur yang telah ditetapkan Grand Strategy yaitu
sebesar 5%. Sisi internal akan memperlihatkan kuat lemahnya kinerja perusahaan,
sementara sisi eksternal akan memperlihatkan cepat atau lambatnya Industri
perusahaan itu berjalan. Dalam hal ini, analisis Grand Strategy menyediakan
4 kuadran yang menjelaskan masing-masing kondisi perbankan. Kuadran I untuk
yang memiliki posisi kompetitif kuat dengan pertumbuhan industri cepat, kuadran
II untuk yang memiliki posisi kompetitif lemah dengan pertumbuhan industri
cepat, kuadran III untuk yang memiliki posisi kompetitif lemah dengan
pertumbuhan industri lambat, dan kuadran IV untuk yang memiliki posisi
kompetitif kuat dengan pertumbuhan industri lambat. Anders (2010) mengatakan
kombinasi antara variabel eksternal dan perubahan kondisi internal adalah cara
yang paling efektif dalam meningkatkan kinerja perusahaan baik jangka pendek
maupun jangka panjang.
6.
Metode
Penelitian ini
berbentuk deskriptif komparatif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Penelitian ini dilakukan pada Bank Mandiri dan BCA. Objek penelitian ini adalah
kinerja keuangan dengan indikator berupa pertumbuhan profitabilitas,
pertumbuhan total asset, pertumbuhan dana pihhak ketiga, pertumbuhan ekuitas,
pertumbuhan pendapatan bunga.
Jenis data yang
digunakan meliputi data kuantitatif terdiri dari Laporan Keuangan Bank Mandiri
dan BCA serta Laporan Statistik Perbankan Indonesia sedangkan data kualitatif
berupa Struktur organisasi dan sejarah Bank Mandiri dan BCA. Metode pengumpulan
data yang digunakan dengan melakukan observasi non-prilaku yang diambil dari
dokumen (Sugiyono, 1999:15).
Teknik analisis
yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan
kuantitatif. Penggunaan analisis kuantitatif ini digunakan untuk menghitung
pertumbuhan industri perbankan nasional, yang nantinya hasil perhitungan ini
akan dibandingkan dengan kondisi perekonomian Indonesia untuk melihat kategori
pertumbuhan industri cepat atau lambat. Selain itu, analisis kuantitatif juga
digunakan untuk menyusun posisi kompetitif. Hal ini digunakan untuk melihat
pertumbuhan profitabilitas, pertumbuhan total asset, pertumbuhan dana pihak
ketiga, pertumbuhan ekuitas, serta pertumbuhan dana pihak ketiga. Setelah
menyusun posisi kompetitif dan melihat kategori pertumbuhan industri perbankan
nasional, maka dilakukan analisis Grand Strategy. Adapun rumus yang digunakan
dalam analisis kuantitatif ini:

Keterangan:
Pn = Pertumbuhan tahun ke-n
Yn = Pendapatan tahun ke-n
Yo = Pendapatan tahun sebelumnya
Jika Pertumbuhan
Ekonomi Nasional ≥ 5%, maka Pertumbuhan Ekonomi cepat, sementara jika
Pertumbuhan Ekonomi Nasional < 5%, maka Pertumbuhan Ekonomi lambat. Untuk
Pertumbuhan Industri Perbankan ≥ Pertumbuhan Ekonomi Nasional, maka Pertumbuhan
Industri cepat. Akan tetapi jika Pertumbuhan Industri Perbankan <
Pertumbuhan Ekonomi Nasional, maka Pertumbuhan Industri lambat.
7.
Hasil Penelitian
Hasil Posisi Kompetitif Antara
Bank Mandiri dan BCA ditunjukan pada table 1.

Untuk
Profitabilitas, Bank Mandiri mampu mencatat angka Rp 16,043 triliun sementara
BCA hanya mencatat sebesar Rp 14,686, yang menunjukan bahwa Bank Mandiri mampu
menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi. Jika dilihat dari segi
pertumbuhan profitabilitas yang dihasilkan, angka yang ditunjukan oleh Bank
Mandiri dan BCA yaitu sebesar 26,4% dan 7,8%. Angka 26,4 dan 7,8 menunjukan
bahwa masing-masing bank mengalami peningkatan profitabilitas di tahun 2012
dengan posisi pertumbuhan profitabilitas Bank Mandiri lebih tinggi di
bandingkan dengan BCA. Hal ini menunjukan bahwa posisi kompetitif Bank Mandiri
lebih kuat baik secara perolehan maupun pertumbuhan profitabilitas.
Jika
dilihat dari segi perolehan total asset, Bank Mandiri mencatat sebesar Rp
635,618 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan BCA yang hanya mencapai angka
Rp 442,994 triliun. Angka 15,2 dan 16,0 menunjukan persentase pertumbuhan total
asset Bank Mandiri dan BCA dari tahun 2011 ke tahun 2012 yang artinya di tahun
2012 kedua bank mengalami peningkatan dalam perolehan total asset. Jika dilihat
dari sisi pertumbuhan total asset, Bank Mandiri mengalami pertumbuhan yang
lebih rendah dibandingkan dengan BCA yaitu 15,2% berbanding 16,0%. Hal ini
menunjukan bahwa posisi kompetitif untuk Bank Mandiri lebih kuat secara
perolehan total asset tetapi tidak dari segi pertumbuhan total asetnya.
Selain
itu, baik dari segi perolehan dana pihak ketiga, ekuitas, dan pendapatan bunga
menunjukan bahwa Bank Mandiri lebih unggul dibandingkan dengan BCA dengan angka
Rp 442,837 triliun > Rp 368,789 triliun untuk dana pihak ketiga, Rp 76,532
triliun > Rp 51,826 triliun untuk ekuitas, Rp 29,693 triliun > Rp 28,885
triliun. Jika dilihat dari segi pertumbuhan dana pihak ketiga, pertumbuhan
ekuitas, pertumbuhan pendapatan bunga, masing-masing bank mengalami pertumbuhan
yang positif dalam artian dari tahun 2011 ke tahun 2012 mengalami peningkatan
untuk dana pihak ketiga, ekuitas, dan pendapatan bunga. Untuk pertumbuhan dana
pihak ketiga Bank Mandiri lebih unggul dari BCA dengan angka 15,1% berbanding
14,3%. Begitu juga halnya dari sisi pertumbuhan pendapatan bunga Bank Mandiri
lebih unggul dari BCA dengan angka 25,9% berbanding 12,0%. Sementara untuk
pertumbuhan ekuitasnya Bank Mandiri menunjukan angka yang lebih rendah dari BCA
yaitu 22,2 berbanding 23,3%. Hasil ini menunjukan bahwa Bank Mandiri lebih
unggul dari segi memperoleh dana pihak ketiga, ekuitas, dan pendapatan bunga
meskipun dalam hal pertumbuhan total ekuitasnya kalah tetapi unggul di
pertumbuhan dana pihak ketiga dan pertumbuhan pendapatan bunga.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa Bank Mandiri memiliki posisi kompetitif yang lebih kuat
dari BCA. Hal tersebut dapat dilihat dari unggulnya Bank Mandiri di 3 kategori
pertumbuhan yaitu pertumbuhan profitabilitas, pertumbuhan dana pihak ketiga,
dan pertumbuhan pendapatan bunga.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditahun
2012 mengalami pertumbuhan yang cepat. Hal tersebut terlihat secara statistik
Pertumbuhan ekonomi > 5%, yaitu 6,2% > 5%. Sehingga untuk menghitung
pertumbuhan Industri Perbankan Nasional maka batas ukur yang digunakan adalah
pertumbuhan ekonomi di tahun 2012.
Jika dilihat,
ditahun 2012 persentase pertumbuhan Industri Perbankan Nasional mencatat angka
sebesar 16,75%. Angka ini lebih besar dari angka pertumbuhan ekonomi yang hanya
sebesar 6,2%. Secara statistik terlihat bahwa pertumbuhan Industri Perbankan
> Pertumbuhan Ekonomi yaitu 16,75% > 6,2%. Hal ini menunjukan bahwa
industri perbankan tumbuh secara cepat dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang
cepat pula.
Berdasarkan
hasil posisi kompetitif dan juga pertumbuhan industri, dapat dianalisis bahwa
Bank Mandiri berada dalam posisi kompetitif yang lebih kuat sementara BCA
berada dalam posisi kompetitif yang lebih lemah. Sementara untuk petumbuhan
industri perbankan berada dalam kategori pertumbuhan industri yang cepat.
Sehingga antara Bank Mandiri dan BCA memiliki pertumbuhan industri yang cepat.
Dengan kondisi posisi kompetitif yang lebih kuat dengan industri cepat, membuat
Bank Mandiri berada dalam kuadran I, sementara BCA dengan posisi kompetitif
yang lebih lemah dan pertumbuhan industry yang cepat berada dalam kuadran II.
Dengan demikian, Bank Mandiri memiliki kinerja yang lebih baik jika
dibandingkan dengan BCA. Bank Mandiri dapat memilih salah satu alternatif
strategi yaitu strategi intensif, integrasi, maupun dengan diversifikasi
konsentrik dengan tujuan untuk mempertahankan posisinya. Sementara untuk BCA
dapat memilih strategi diversifikasi konsenrik dan konglomerat, integrasi
horizontal, divestasi, dan likuidasi dengan tujuan agar tetap bisa bertahan
dalam persaingan serta bisa mencapai posisi kompetitif yang kuat dengan tingkat
pertumbuhan industri yang cepat.
Sumber
Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar