Rabu, 15 Juni 2016

REVIEW JURNAL PENELITIAN AKUNTANSI 2

1.        Judul Penelitian  : PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK MANDIRI DAN BCA DENGAN GRAND STRATEGY

2.        Penulis                 : Komang Wisnu Angga Sukma dan Prof. Dr I Wayan Ramantha, S.E., M.M., Ak., CPA

3.        Nama Jurnal       : E-jurnal Akuntansi Universitas Udayana 11.1 (2015) : 130- 142

4.        Tahun Terbit      : 2015

5.        Latar Belakang Penelitian :

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini yang penuh dengan persaingan dan ketidakstabilan, merupakan salah satu faktor penghambat bagi kemajuan bangsa Indonesia. Hal tersebut berimbas pada kinerja perbankan yang menyebabkan bank-bank umum maupun lembaga keuangan lainnya berlomba-lomba menghimpun dana dari masyarakat. Dana yang terkumpul dari masyarakat berupa tabungan, deposito, dan giro yang merupakan sumber dana bank.

Tabungan merupakan simpanan yang penarikannya tidak dapat dilakukan dengan cek serta memerlukan syarat-syarat tertentu berdasarkan kesepakatan. Sedangkan deposito adalah simpanan yang dibuat berdasarkan perjanjian antara nasabah dan bank mengenai waktu penarikannya (Kasmir: 2007). Dana-dana ini akan disalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit. Kredit, tabungan dan deposito mampu memberikan kontribusi terhadap kinerja perbankan (Khausik, dkk). Menurut Irfan (2007), antara deposito, tabungan, maupun giro yang berasal dari dana pihak ketiga merupakan sumber penyaluran kredit terbesar bagi bank serta mampu mempengaruhi perubahan profitabilitas bank.

Strategy adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu pemetaan kondisi perusahaan untuk melihat kondisi perusahaan terhadap lingkungan internal dan eksternal yang memberikan alternatif pilihan strategi berupa intensif, integrasi, diversifikasi, divestasi, maupun likuidasi dalam mencapai tujuan perusahaan baik jangka pendek dan jangka panjang. Sisi internal yang dinilai dalam analisis Grand Strategy adalah posisi kompetitif perusahaan dengan pesaingnya, sementara sisi ekternalnya dilihat dari perbandingan pertumbuhan Industri perusahaan dengan batas ukur yang telah ditetapkan Grand Strategy yaitu sebesar 5%. Sisi internal akan memperlihatkan kuat lemahnya kinerja perusahaan, sementara sisi eksternal akan memperlihatkan cepat atau lambatnya Industri perusahaan itu berjalan. Dalam hal ini, analisis Grand Strategy menyediakan 4 kuadran yang menjelaskan masing-masing kondisi perbankan. Kuadran I untuk yang memiliki posisi kompetitif kuat dengan pertumbuhan industri cepat, kuadran II untuk yang memiliki posisi kompetitif lemah dengan pertumbuhan industri cepat, kuadran III untuk yang memiliki posisi kompetitif lemah dengan pertumbuhan industri lambat, dan kuadran IV untuk yang memiliki posisi kompetitif kuat dengan pertumbuhan industri lambat. Anders (2010) mengatakan kombinasi antara variabel eksternal dan perubahan kondisi internal adalah cara yang paling efektif dalam meningkatkan kinerja perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

6.        Metode

Penelitian ini berbentuk deskriptif komparatif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan pada Bank Mandiri dan BCA. Objek penelitian ini adalah kinerja keuangan dengan indikator berupa pertumbuhan profitabilitas, pertumbuhan total asset, pertumbuhan dana pihhak ketiga, pertumbuhan ekuitas, pertumbuhan pendapatan bunga.

Jenis data yang digunakan meliputi data kuantitatif terdiri dari Laporan Keuangan Bank Mandiri dan BCA serta Laporan Statistik Perbankan Indonesia sedangkan data kualitatif berupa Struktur organisasi dan sejarah Bank Mandiri dan BCA. Metode pengumpulan data yang digunakan dengan melakukan observasi non-prilaku yang diambil dari dokumen (Sugiyono, 1999:15).

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Penggunaan analisis kuantitatif ini digunakan untuk menghitung pertumbuhan industri perbankan nasional, yang nantinya hasil perhitungan ini akan dibandingkan dengan kondisi perekonomian Indonesia untuk melihat kategori pertumbuhan industri cepat atau lambat. Selain itu, analisis kuantitatif juga digunakan untuk menyusun posisi kompetitif. Hal ini digunakan untuk melihat pertumbuhan profitabilitas, pertumbuhan total asset, pertumbuhan dana pihak ketiga, pertumbuhan ekuitas, serta pertumbuhan dana pihak ketiga. Setelah menyusun posisi kompetitif dan melihat kategori pertumbuhan industri perbankan nasional, maka dilakukan analisis Grand Strategy. Adapun rumus yang digunakan dalam analisis kuantitatif ini:


Keterangan:
Pn = Pertumbuhan tahun ke-n
Yn = Pendapatan tahun ke-n
Yo = Pendapatan tahun sebelumnya

Jika Pertumbuhan Ekonomi Nasional ≥ 5%, maka Pertumbuhan Ekonomi cepat, sementara jika Pertumbuhan Ekonomi Nasional < 5%, maka Pertumbuhan Ekonomi lambat. Untuk Pertumbuhan Industri Perbankan ≥ Pertumbuhan Ekonomi Nasional, maka Pertumbuhan Industri cepat. Akan tetapi jika Pertumbuhan Industri Perbankan < Pertumbuhan Ekonomi Nasional, maka Pertumbuhan Industri lambat.


7.        Hasil Penelitian
Hasil Posisi Kompetitif Antara Bank Mandiri dan BCA ditunjukan pada table 1.


Untuk Profitabilitas, Bank Mandiri mampu mencatat angka Rp 16,043 triliun sementara BCA hanya mencatat sebesar Rp 14,686, yang menunjukan bahwa Bank Mandiri mampu menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi. Jika dilihat dari segi pertumbuhan profitabilitas yang dihasilkan, angka yang ditunjukan oleh Bank Mandiri dan BCA yaitu sebesar 26,4% dan 7,8%. Angka 26,4 dan 7,8 menunjukan bahwa masing-masing bank mengalami peningkatan profitabilitas di tahun 2012 dengan posisi pertumbuhan profitabilitas Bank Mandiri lebih tinggi di bandingkan dengan BCA. Hal ini menunjukan bahwa posisi kompetitif Bank Mandiri lebih kuat baik secara perolehan maupun pertumbuhan profitabilitas.

Jika dilihat dari segi perolehan total asset, Bank Mandiri mencatat sebesar Rp 635,618 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan BCA yang hanya mencapai angka Rp 442,994 triliun. Angka 15,2 dan 16,0 menunjukan persentase pertumbuhan total asset Bank Mandiri dan BCA dari tahun 2011 ke tahun 2012 yang artinya di tahun 2012 kedua bank mengalami peningkatan dalam perolehan total asset. Jika dilihat dari sisi pertumbuhan total asset, Bank Mandiri mengalami pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan BCA yaitu 15,2% berbanding 16,0%. Hal ini menunjukan bahwa posisi kompetitif untuk Bank Mandiri lebih kuat secara perolehan total asset tetapi tidak dari segi pertumbuhan total asetnya.

Selain itu, baik dari segi perolehan dana pihak ketiga, ekuitas, dan pendapatan bunga menunjukan bahwa Bank Mandiri lebih unggul dibandingkan dengan BCA dengan angka Rp 442,837 triliun > Rp 368,789 triliun untuk dana pihak ketiga, Rp 76,532 triliun > Rp 51,826 triliun untuk ekuitas, Rp 29,693 triliun > Rp 28,885 triliun. Jika dilihat dari segi pertumbuhan dana pihak ketiga, pertumbuhan ekuitas, pertumbuhan pendapatan bunga, masing-masing bank mengalami pertumbuhan yang positif dalam artian dari tahun 2011 ke tahun 2012 mengalami peningkatan untuk dana pihak ketiga, ekuitas, dan pendapatan bunga. Untuk pertumbuhan dana pihak ketiga Bank Mandiri lebih unggul dari BCA dengan angka 15,1% berbanding 14,3%. Begitu juga halnya dari sisi pertumbuhan pendapatan bunga Bank Mandiri lebih unggul dari BCA dengan angka 25,9% berbanding 12,0%. Sementara untuk pertumbuhan ekuitasnya Bank Mandiri menunjukan angka yang lebih rendah dari BCA yaitu 22,2 berbanding 23,3%. Hasil ini menunjukan bahwa Bank Mandiri lebih unggul dari segi memperoleh dana pihak ketiga, ekuitas, dan pendapatan bunga meskipun dalam hal pertumbuhan total ekuitasnya kalah tetapi unggul di pertumbuhan dana pihak ketiga dan pertumbuhan pendapatan bunga.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Bank Mandiri memiliki posisi kompetitif yang lebih kuat dari BCA. Hal tersebut dapat dilihat dari unggulnya Bank Mandiri di 3 kategori pertumbuhan yaitu pertumbuhan profitabilitas, pertumbuhan dana pihak ketiga, dan pertumbuhan pendapatan bunga.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditahun 2012 mengalami pertumbuhan yang cepat. Hal tersebut terlihat secara statistik Pertumbuhan ekonomi > 5%, yaitu 6,2% > 5%. Sehingga untuk menghitung pertumbuhan Industri Perbankan Nasional maka batas ukur yang digunakan adalah pertumbuhan ekonomi di tahun 2012.

Jika dilihat, ditahun 2012 persentase pertumbuhan Industri Perbankan Nasional mencatat angka sebesar 16,75%. Angka ini lebih besar dari angka pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 6,2%. Secara statistik terlihat bahwa pertumbuhan Industri Perbankan > Pertumbuhan Ekonomi yaitu 16,75% > 6,2%. Hal ini menunjukan bahwa industri perbankan tumbuh secara cepat dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang cepat pula.

Berdasarkan hasil posisi kompetitif dan juga pertumbuhan industri, dapat dianalisis bahwa Bank Mandiri berada dalam posisi kompetitif yang lebih kuat sementara BCA berada dalam posisi kompetitif yang lebih lemah. Sementara untuk petumbuhan industri perbankan berada dalam kategori pertumbuhan industri yang cepat. Sehingga antara Bank Mandiri dan BCA memiliki pertumbuhan industri yang cepat. Dengan kondisi posisi kompetitif yang lebih kuat dengan industri cepat, membuat Bank Mandiri berada dalam kuadran I, sementara BCA dengan posisi kompetitif yang lebih lemah dan pertumbuhan industry yang cepat berada dalam kuadran II. Dengan demikian, Bank Mandiri memiliki kinerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan BCA. Bank Mandiri dapat memilih salah satu alternatif strategi yaitu strategi intensif, integrasi, maupun dengan diversifikasi konsentrik dengan tujuan untuk mempertahankan posisinya. Sementara untuk BCA dapat memilih strategi diversifikasi konsenrik dan konglomerat, integrasi horizontal, divestasi, dan likuidasi dengan tujuan agar tetap bisa bertahan dalam persaingan serta bisa mencapai posisi kompetitif yang kuat dengan tingkat pertumbuhan industri yang cepat.


Sumber Referensi :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar