BAB 11
AKUNTANSI DAN
LAPORAN KEUANGAN
A.
Definisi Akuntansi
Definisi
akuntansi menurut para ahli yaitu :
a. Menurut American Insitute of Certified Public
Accounting (AICPA) dalam Harahap (2003) mendefinisikan akuntansi sebagai
seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dalam
ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan
termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.
b. Sedangkan pengertian akuntansi menurut Rudianto mendefenisikan
bahwa akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada
pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi suatu
badan usaha.
c. Dan pengertian menurut Charles T. Horngren, dan Walter T.Harrison (Horngren
Harrison,2007:4) menyatakan bahwa: Akuntansi adalah sistem informasi yang
mengukur aktivitas bisnis, memproses data menjadi laporan, dan
mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan.
B.
Fungsi Akuntansi
Akuntansi seringkali dinyatakan sebagai bahasa perusahaan
yang berguna untuk memberikan informasi yang berupa data-data keuangan perusahaan
yang dapat digunakan guna pengambilan keputusan. Setiap perusahaan memerlukan
dua macam informasi tentang perusahaannya yaitu informasi mengenai nilai
perusahaan dan informasi tentang laba/rugi usaha. Kedua informasi tersebut
berguna untuk:
1.
Mengetahui besarnya modal yang dimiliki
perusahaan
2.
Mengetahui perkembangan ayau maju mundurnya
perusahan
3.
Sebagai dasar untuk perhitunngan pajak
4.
menjelaskan keadaan perusahaan sewaktu-waktu
memrlukan kredit dari bank atau pihak lain
5.
Dasar untuk menentukan kebijakan yang akan
ditempuh
6.
Menarik minat investor saham jika perusahaan berbentuk perseroan terbatas.
Untuk
memperoleh informasi-informasi tersebut diatas, pengusaha hendaknya mengadakan
catatan yang teratur mengenai transaksi-transaksi yang dilakukan perusahaan
yang dinyatakan dalam satuan uang.
C.
Pihak
– Pihak yang Berkepentingan
Pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap informasi akuntansi adalah :
1.
Pimpinan perusahaan
Untuk mengetahui
perkembangan dan kondisi perusahaan.
2.
Pemilik Perusahaan
Untuk mengetahui
perbandingan antara modal yang ditanam dengan laba yang dicapai.
3.
Kreditor
Untuk menilai sehat atau
tidaknya kondisi keuangan.
4.
Pemerintah
Untuk tujuan penetapan pajak perusahaan
Untuk tujuan penetapan pajak perusahaan
5.
Karyawan
Mengetahui perkembangan atau kemajuan perusahaan yang berhubungan dengan kelangsungan dan kenaikan gajinya.
Mengetahui perkembangan atau kemajuan perusahaan yang berhubungan dengan kelangsungan dan kenaikan gajinya.
D.
Prinsip
Akuntansi
Selain penerapan asumsi-asumsi
dasar dalam praktek akuntansi, terdapat juga beberapa prinsip-prinsip yang
perlu diperhatikan dan diterapkan. Seperti orang hidup yang harus memiliki
prinsip, demikian juga dengan akuntansi.
Adapun prinsip-prinsip akuntansi tersebut adalah :
1.
Prinsip Biaya Historis (Historical
Cost Principle)
Prinsip
ini menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang,
modal dan biaya. Misalkan, pada saat kita hendak membeli sebuah laptop, kita
ditawari harga Rp 9.000.000,00, setelah proses tawar menawar berjalan kita
membeli laptop tersebut dengan harga Rp 8.950.000,00. Dari kondisi di atas yang
menjadi harga perolehan laptop kita adalah Rp 8.950.000,00, sehingga pada
pencatatan kita yang muncul adalah angka Rp 8.950.000,00.
2.
Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue
Recognition Principle)
Pendapatan
adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari penyerahan barang
atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu.
Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.
Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.
3.
Prinsip Mempertemukan (Matching
Principle)
Yang
dimaksud dengan prinsip ini adalah mempertemukan biaya dengan pendapatan yang
timbul karena biaya tersebut. Prinsip ini berguna untuk menentukan besarnya
penghasilan bersih setiap periode. Prinsip ini biasanya diterapkan saat kita
membuat jurnal penyesuaian. Dengan adanya prinsip ini kita harus menghitung
berapa besarnya biaya yang sudah benar-benar menjadi beban kita meskipun belum
dikeluarkan, dan berapa besarnya pendapatan yang sudah benar-benar menjadi hak
kita meskipun belum kita terima selama periode berjalan.
4.
Prinsip Konsistensi (Consistency
Principle)
Metode
dan prosedur-prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara
konsisten dari tahun ke tahun. Konsistensi tidak dimaksudkan sebagai larangan
penggantian metode, jadi masih dimungkinkan untuk mengadakan perubahan metode
yang dipakai. Jika ada penggantian metode, maka selisih yang cukup berarti
(material) terhadap laba perusahaan harus dijelaskan dalam laporan keuangan,
tergantung dari sifat dan perlakukan terhadap perubahan metode atau prinsip
tersebut.
5.
Prinsip Pengungkapan Lengkap (Full
Disclosure Principle)
Yang
dimaksud dengan prinsip ini adalah menyajikan informasi yang lengkap dalam
laporan keuangan. Hal ini diperlukan karena melalui laporan keuanganlah kita
dapat mengetahui kondisi suatu perusahaan dan mengambil keputusan atas
perusahaan tersebut. Apabila informasi yang disajikan tidak lengkap, maka laporan
keuangan tersebut bisa menyesatkan para pemakainya.
E.
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan
hasil akhir dari suatu proses pencatatan, yang merupakan suatu ringkasan dari
transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.
Pengertian laporan keuangan
menurut Standar Akuntansi Keuangan adalah “Laporan keuangan merupakan bagian
dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi
neraca, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai
cara seperti misal, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan
juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan
tersebut, misal informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan
pengaruh perubahan harga”
Dari pengertian diatas laporan
keuangan dibuat sebagai bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap,
dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepada
manajemen.
Penyusunan laporan keuangan
disiapkan mulai dari berbagai sumber data, terdiri dari faktur-faktur, bon-bon,
nota kredit, salinan faktur penjualan, laporan bank dan sebagainya. Data yang
asli bukan saja digunakan untuk mengisi buku perkiraan, tetapi dapat juga
dipakai untuk membuktikan keabsahan transaksi.
F.
Isi Laporan Keuangan
Laporan keuangan terdiri dari :
1. Neraca, menginformasikan posisi keuangan
pada saat tertentu, yang tercermin pada jumlah harta yang dimiliki, jumlah
kewajiban, dan modal perusahaan.
2. Perhitungan laba rugi, menginformasikan hasil usaha
perusahaan dalam suatu periode tertentu.
3. Laporan arus kas, menginformasikan perubahan dalam
posisi keuangan sebagai akibat dari kegiatan usaha, pembelanjaan, dan investasi
selama periode yang bersangkutan.
4. Catatan atas laporan keuangan, menginformasikan kebijaksanaan
akuntansi yang mempengaruhi posisi keuangan dari hasil keuangan perusahaan.
Laporan keuangan diharapkan
disajikan secara layak, jelas, dan lengkap, yang mengungkapkan
kenyataan-kenyataan ekonomi mengenai eksistensi dan operasi perusahaan
tersebut. Dalam menyusun laporan keuangan, akuntansi dihadapkan dengan
kemungkinan bahaya penyimpangan (bias), salah penafsiran dan ketidaktepatan.
Untuk meminimkan bahaya ini, profesi akuntansi telah berupaya untuk
mengembangkan suatu barang tubuh teori ini. Setiap akuntansi atau perusahaan
harus menyesuaikan diri terhadap praktik akuntansi dan pelaporan dari setiap
perusahaan tertentu.
G.
Bentuk Neraca
Neraca dapat dibuat dalam
dua bentuk, yaitu :
1.
Bentuk Skontro
Harta perusahaan dan sisi
kanan (kredit) untuk mencatat utang dan modal perusahaan.
2.
Bentuk Staffel
Neraca disusun dari atas ke
bawah secara berurutan mulai dari harta kemudian diikuti utang dan modal.
H.
Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi adalah suatu laporan yang
menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu usaha untuk suatu
periode tertentu. Selisih antara pendapatan-pendapatan dan biaya merupakan laba
yang diperoleh atau rugi yang diderita oleh perusahaan. Laporan laba rugi yang
kadang-kadang disebut laporan penghasilan atau laporan pendapatan dan biaya
merupakan laporan yang menunjukkan kemajuan keuangan perusahaan dan jga
merupakan tali penghubung dua neraca yang berurutan.
I.
Bentuk Laporan Laba Rugi
Laporan Laba-Rugi dapat
dibuat dalam dua bentuk, yaitu:
1.
Bentuk Single Step atau Langsung
Semua pendapatan
dikelompokkan tersendiri di bagian atas dan dijumlahkan, kemudian semua beban
dikelompokkan tersendiri di bagian bawah dan dijumlahkan. Jumlah pendapatan
dikurangi jumlah beban, selisihnya merupakan laba bersih atau rugi bersih.
2.
Bentuk Multiple Step atau Tidak Langsung
Pendapatan dibedakan menjadi
pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha, demikian juga beban dibedakan
menjadi beban usaha usaha dan beban di luar usaha. Pendapatan dan beban usaha
disajikan pertama, pendapatan dan beban di luar usaha disajikan.
J.
Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah menyediakan informasi yang
menyangkut posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi serta menunjukkan kinerja yang
telah dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen
atas penggunaan sumber-sumber daya yg dipercayakan kepadanya.
Dalam rangka mencapai tujuan
tersebut suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan
meliputi :
1.
Aktiva
2.
Kewajiban
3.
Ekuitas
4.
Pendapatan dan beban
termasuk keuntungan
5.
Arus kas
Informasi tersebut di atas beserta informasi lain yg terdapat dalam catatan laporan keuangan membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan khusus dalam hal waktu dan kepastian diperoleh kas dan setara kas.
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar