Senin, 01 Januari 2018

REVIEW JURNAL, SOFTSKILL ETIKA PROFESI AKUNTANSI

REVIEW JURNAL


Judul                          : Peranan Etika Akuntan terhadap Pelaksanaan Fraud Audit
Nama penulis             : Ahcmad Badjuri
Jurnal                         : Fokus Ekonomi (FE), Desember 2010, Hal 194 – 202
Reviewer                    : - Komang Gita Danitri                   (25214907)
   - Hilda Pangestika                          (24214991)     
   - Sinatrya Nurul Islami                 (2A214289)
   - Mega Shintia                               (26214531)
   - Resha Artiyani                            (29214077)
   - Tri Setyanisa W                           (2A214846)

Pendahuluan
Akuntan wajib mematuhi aturan etika yang tertuang dalam kode etik akuntan. Kode etik akuntan sebagai suatu prinsip moral dan perbuatan yang menjadi landasan bertindaknya akuntan. Dengan adanya kode etik ini maka para akuntan diharapkan memahami dan menerapkan dalam penugasannya.  Konsep dasar etika dalam audit dikaitkan dengan konsep dasar audit serta menjelaskan mengenai profesi dan kode etik akuntan, fraud audit, standar fraud audit dan etika dalam fraud audit.

Tujuan Penelitian
Menjelaskan mengenai konsep dasar etika dalam audit yang dikaitkan dengan konsep dasar audit serta menjelaskan mengenai profesi kode etik akuntan, fraud audit, standar fraud audit dan etika dalam fraud audit.

PEMBAHASAN
Setiap akuntan profesional memahami dan menerapkan kode etik akuntan yang sudah diatur oleh lembaga profesi. Para akuntan yang melanggar etika terkadang tidak menyadari atau bahkan tidak peduli dampak yang ditimbulkan atas pelanggaran tersebut.

Konsep etika dan moral
Istilah etika berasal dari Bahasa  Yunani  Kuno etos dan to etha yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Dalam Bahasa Arab, etika dianggap sama dengan akhlak, atau ilmu akhlak, yang  berarti  perilaku  atau perbuatan yang dianggap mulia oleh masyarakat. Istilah moral berasal dari kata Bahasa Latin mos dan mores, yang berarti adat atau kebiasaan (Kanter, 2001).
Moralitas adalah tradisi  kepercayaan dalam agama atau kebudayaan tentang perilaku yang baik dan buruk (Suseno, 1987). Perbedaan keduanya adalah, moralitas mengajarkan kepada kita tentang ”cara kita melangkah”. Sedangkan etika justru mempersoalkan tentang ”mengapa harus cara tersebut”.

Konsep Etos
Dalam Bahasa Inggris ethos berarti ciri-ciri atau sikap dari individu, masyarakat atau budaya terhadap kegiatan tertentu. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan  kerja  seperti disiplin, tanggungjawab, dedikasi, integritas, transparansi dan sebagainya.
Dengan demikian dapat disimpulkan  bahwa  seseorang  yang memiliki etos kerja yang tinggi, berarti dia melaksanakan suatu pekerjaan secara sungguh- sungguh dengan dilandasi suatu keyakinan, bahwa melakukan suatu pekerjaan yang baik akan mendapatkan balasan (reward) yang lebih  baik  atau sepadan.

 

Konsep Etiket

Etiket berasal dari kosa kata bahasa Inggris etiquette yang berarti aturan untuk  hubungan formal atau sopan santun, seperti etiket pergaulan, etiket makan, etiket berbicara dan sebagainya.
Pendekatan Etika Normatif
Etika normatif  mengevaluasi,  apakah perilaku tertentu bisa diterima atau tidak berdasarkan norma-norma moral yang menjunjung tinggi martabat manusia. Etika normatif terfokus pada perumusan prinsip- prinsip moral yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Pada etika normatif, perilaku- perilaku seperti mencuri,  penggelapan  dan tindakan korupsi tidak bisa diterima karena bertentangan dengan martabat manusia yang harus dijunjung tinggi.       
Etika normatif dibagi dalam etika umum dan etika khusus. Etika umum memfokuskan pada kajian-kajian umum. Etika khusus menitikberatkan pada prinsip- prinsip atau norma-norma moral pada perilaku manusia yang khusus,

Pendekatan Etika Deskrisptif
Etika deskriptif membahas mengenai fakta secara utuh, yaitu mengenai nilai dan perilaku manusia. Pendekatan ini juga mempelajari perilaku moral yang dilandasi dengan  perbuatan yang baik dan perbuatan tidak baik yang dilakukan masyarakat tertentu. Etika deskripstif bersifat menggambarkan dan tidak mengevaluasi secara moral.

Pendekatan Etika Metaetika.
Dalam pendekatan metaetika ini suatu perilaku dikatakan baik dari sudut moral bukan sekedar karena perilaku itu membantu atau meningkatkan martabat orang lain, tetapi juga perilaku itu memenuhi suatu persyaratan moral. Sebagai contoh penerapannya, misalnya, apabila kita menjadi pendonor organ tubuh untuk transplantasi itu baik dari sudut moral  dan  dianggap sebagai perbuatan hebat dan sangat terpuji. Tetapi kegiatan ini menjadi tidak baik apabila kita sebagai pendonor ternyata menjual organ kepada pasien yang akan ditransplantasi.

Teori-Teori Tentang Etika.

Teori tentang etika antara lain: etika deontologi, etika teleologi dan etika keutamaan.
a.      Etika Deontologi
Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon, yang berarti kewajiban. Etika deontologi memberikan pedoman moral agar manusia melakukan apa yang menjadi kewajiban sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang ada. Tindakan sedekah kepada orang miskin adalah tindakan yang baik karena perbuatan tersebut merupakan kewajiban manusia untuk melakukannya. Sebaliknya, tindakan mencuri, penggelapan dan korupsi adalah perbuatan buruk dan kewajiban manusia untuk menghindarinya. Etika deontologi tidak membahas apa akibat atau konsekuensi dari suatu perilaku. 

b.      Etika Teleologi.

Teleologi berasal dari kata  Yunani  telos, yang berarti tujuan. Etika  teleologi  tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban, tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu perilaku. Suatu perilaku akan dinilai baik apabila bertujuan atau berakibat baik sebaliknya suatu perilaku dinilai buruk apabila bertujuan atau berakibat buruk.
c.       Etika Keutamaan
Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Etika keutamaan sangat menekankan pentingnya sejarah dan cerita. Dari sejarah ini kita dapat menjumpai keutamaan moral para tokoh- tokoh besar sehingga kita dapat belajar tentang apa itu keutamaan moral dan kita juga dapat belajar menghayati dan mempraktekkannya.

Kode Etik Akuntan.

Pengertian Kode Etik Profesi.

          Akuntan sebagai suatu profesi untuk memenuhi fungsi auditing harus tunduk pada kode etik profesi dan melaksanakan audit terhadap suatu laporan keuangan dengan cara tertentu. Etik  yang  telah disepakati bersama oleh  anggota  suatu profesi disebut dengan Kode Etik Profesi. Akuntan sebagai suatu profesi mempunyai kode etik profesi yang dinamakan Kode Etik Akuntan Indonesia.


Kode Etik Sebagai Alat Kepercayaan Publik
Kode etik akuntan merupakan suatu sistem prinsip moral dan pelaksanaan aturan yang memberikan pedoman kepada akuntan dalam berhubungan dengan klien, masyarakat,  dan akuntan lain sesama profesi. Kode etik akuntan dapat digunakan sebagai suatu alat atau sarana untuk memberikan keyakinan atau kepercayaan pada klien, pemakai laporan keuangan dan masyarakat tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikan oleh akuntan. 
Kasus Enron, WorldCom dan kasus jual beli opini oleh auditor BPK di Indonesia menjadi kasus pelanggaran kode etik bagi profesi akuntan. Kasus tersebut membuat akuntan menjadi diragukan profesionalismenya oleh masyarakat. Salah satu upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat dapat dilakukan dengan penerapan secara ketat terhadap kode etik yang sudah ditetapkan lembaga profesi.

 

Etika Dalam Konsep Dasar Audit.

Konsep Dasar Audit

Dalam melaksanakan tugas audit, akuntan menerapkan prosedur, metode dan teknik sesuai dengan kondisi yang dihadapinya namun selaras dengan standar audit. Untuk menetapkan standar diperlukan konsep yang mendasarinya sehingga standar tersebut dapat dijabarkan dalam prosedur, metode dan teknik audit.
Konsep dasar sangat diperlukan karena merupakan dasar untuk pembuatan standar. Menurut Mautz & Sharaf, teori audit tersusun atas lima konsep dasar, yaitu :
1.           Independensi (Independence).
2.           Kehati-hatian dalam audit (Due audit care)
3.           Etika perilaku (Ethical conduct)
4.           Bukti (Evidence).
5.           Penyajian atau pengungkapan yang wajar (Fair presentation).

Hubungan Etika Audit Dengan Konsep Independensi
Dalam melaksanakan tugas profesionalnya, auditor dituntut untuk bersikap dan bertindak independen dan objektif. Independensi  artinya bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan ataupun tidak tergantung kepada pihak lain. Objektif artinya sikap tidak memihak dalam mempertimbangkan fakta. Secara etika, auditor yang independen harus memposisikan dirinya agar dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat atau pihak lain melalui sikap dan tindakan nyata yang dapat dirasakan  oleh  pihak lain tersebut.
Contoh tindakan independen auditor adalah melakukan penolakan tugas audit karena beberapa hal berikut :
-       Terjadi pembatasan ruang lingkup, sikap dan luas audit oleh auditee..
-       Auditor tidak dapat independen karena posisi auditor dalam organisasi auditee
-       Terdapat hubungan istimewa antara auditor dengan auditee.

Hubungan Etika Audit Dengan Konsep Kehati- hatian dalam Audit
Konsep kehati-hatian dalam audit didasarkan pada tingkat kehati-hatian. Jika konsep kehati-hatian diaplikasikan dalam penugasan fraud audit yang berindikasi tindak pidana korupai, maka fraud auditor diharapkan mampu mendeteksi dan mengungkap adanya unsur tindak pidana tersebut yaitu :
-         Mampu mengungkap terjadinya kecurangan.
-         Mampu mengungkap fakta dan proses kejadian dan adanya unsur melawan hukum.
-         Mampu mengungkap personel yang diduga terlibat dalam penyimpangan.
-    Mampu mengungkap sebab dan dampak atau akibat yang ditimbulkan misalnya jumlah  kerugian keuangan negara.

Hubungan Etika Audit Dengan Konsep Etika Perilaku
                Etika perilaku adalah bagaimana seorang akuntan profesional yang independen berperilaku ideal dalam melaksanakan audit.
Aturan etika bagi akuntan adalah sebagai berikut :
a.            Etika akuntan berkaitan dengan Auditee.
-         Akuntan senantiasa harus menjaga penampilannya.
-         Akuntan harus menjaga interaksi yang sehat dengan pihak auditee.
-         Akuntan harus menciptakan iklim kerja yang nyaman dan jujur dengan pihak auditee
b.           Etika   akuntan   berkaitan   dengan   rekan profesi.
-         Akuntan wajib menggalang kerjasama yang sehat dengan sesama akuntan.
-    Akuntan harus saling mengingatkan, membimbing dan mengoreksi perilaku sesama akuntan.
-   Akuntan harus memiliki rasa kebersama- an dan rasa kekeluargaan di antara  sesama akuntan.
c.            Etika akuntan berkaitan dengan organisasi tempat bekerja..
-         Akuntan wajib mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tugas profesionalnya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung- jawab.
-         Akuntan harus memiliki semangat loyalitas kepada organisasi.
-         Akuntan harus memiliki integritas yang tinggi dan mempertahankan objektifi- tasnya.

Hubungan Etika Audit Dengan Konsep Bukti Audit
Akuntan harus bersungguh-sungguh berusaha mendapatkan bukti-bukti audit yang cukup, kompeten dan relevan, agar hasil audit  benar-benar tercapai sesuai dengan kebenaran berdasarkan fakta dan dapat  digunakan  sebagai dasar pengambilan keputusan atau opini audit.

 

Hubungan Etika Audit Dengan Konsep Penyajian yang Layak.

Konsep ini menuntut adanya informasi yang bebas, tidak memihak dan tidak bias. Penugasan fraud auditing berkaitan dengan pengungkapan adanya unsur melawan hukum atau pelanggaran hukum dan penugasan tersebut untuk kepentingan negara, laporan hasil auditnya tidak boleh memihak kepada negara

Etika Dalam Fraud Audit.
Pengertian Fraud.
Dalam kamus Inggris-Indonesia (Salim, 1991), fraud diartikan sebagai penipuan, ke- curangan atau penggelapan. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwodarminto,1976) fraud berarti tidak jujur, tidak lurus hati, tidak adil dan keculasan. Fraud juga dapat  diartikan  sebagai suatu keuntungan yang  diperoleh  seseorang  dengan menghadirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Pengertian Fraud Audit
Fraud auditing merupakan disiplin ilmu baru yang membahas kecurangan melalui pendeteksian dengan menggunakan teknik- teknik audit yang diperlukan.
Lingkup fraud auditing mencakup:
1.      Pencegahan fraud (preventive), yaitu untuk meminimalkan faktor- faktor penyebab terjadinya fraud.
2.   Pendeteksian fraud (detective), yaitu untuk mengidentifikasikan terjadinya fraud dengan cepat, tepat dan dengan biaya yang rasional.
3.   Penginvestigatian fraud (investigative), yaitu upaya untuk menangani dan memproses tindakan fraud sesuai dengan pbebameraturan perundang-undangan yang berlaku.

Standar Fraud Audit
Standar audit berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman bagi seluruh anggota organisasi auditor dalam mematuhi kode etik dan menjalankan tugas serta kewajiban profesional sebagaimana tercantum dalam Kode Etik bagi akuntan.
Institute of Certified Fraud Examiner (ICFE) menyusun standar profesional bagi anggotanya, yang terdiri atas standar profesional, standar audit dan standar pelaporan. Standar profesional mengatur tentang Integritas dan objektivitas, kompetensi profesional, kecermatan profesional, pemahaman terhadap klien dan  pemberi perintah dan kerahasiaan. Standar audit mengatur tentang audit atas fraud dan bukti audit. Sedangkan standar pelaporan mengatur tentang hal-hal yang bersifat umum dan isi laporan.

Standar audit untuk melakukan investigasi terhadap fraud yang dilakukan oleh pegawai dalam organisasi bisnis/instansi menurut Spencer dan Jennifer dalam Tuanakota (2007) adalah:
1.      Seluruh investigasi harus dilandasi praktek terbaik yang harus diakui
2.      Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian
3.      Pastikan seluruh dokumentasi dalam keadaan aman terlindungi dan di indeks
4.      Investigator mengerti hak-hak asasi pegawai dan senantiasa menghormatinya
5.      Beban pembuktian ada pada pihak yang menduga pegawainya melakukan kecurangan dan pada penuntut umum
6.      Mencakup seluruh substansi investgasi dan kuasai seluruh target
7.      Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi

Penerapan Etika dalam Fraud Audit.
Fraud auditor di Indonesia perlu melalui proses seleksi yang ketat dan proses sertifikasi agar mendapatkan pengakuan  secara legal dan profesional.
Di Amerika Serikat, The Association of Certified Fraud Examiner (ACFE) telah  menetapkan  kode  etik bagi para fraud auditor yang bersertifikat, yang terdiri dari :
1.      Seorang fraud auditor yang bersertifikat, harus menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme dan ketekunan dalam pelaksanaan tugasnya.
2.      Seorang fraud auditor yang bersertifikat tidak diperkenankan melakukan tindakan yang bersifat ilegal atau melanggar etika.
3.      Seorang fraud auditor yang  bersertifikat harus menunjukkan integritas setinggi-tingginya dalam semua penugasan profesionalnya
4.      Seorang fraud auditor  yang  bersertifikat wajib mematuhi peraturan/perintah dari pengadilan dan akan bersumpah/bersaksi terhadap suatu perkara
5.      Seorang fraud auditor yang  bersertifikat dalam melaksanakan tugas  pemeriksaan, harus memperoleh bukti atau  dokumentasi lain yang dapat mendukung pendapat yang diberikan.
6.      Seorang fraud auditor yang bersertifikat tidak boleh mengungkapkan informasi yang  bersifat rahasia yang diperoleh dari hasil audit tanpa melalui otoritas dari pihak-pihak yang berwenang
7.      Seorang fraud auditor yang bersertifikat mengungkapkan seluruh hal yang material yang diperoleh dari hasil audit.
8.      Seorang fraud auditor yang bersertifikat secara sungguh-sungguh senantiasa meningkatkan kompetensi dan efektifitas hasil kerjanya yang dilakukan secara profesional.

 

KESIMPULAN.

Kode etik profesi bagi akuntan merupakan aturan yang mengikat sebagai lambang kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan. Adanya kode etik bagi akuntan merupakan bentuk pertanggungjawaban profesi terhadap masyarakat dan negara. Kode etik akuntan telah mengatur hubungan antara akuntan terhadap kliennya, sehingga akuntan wajib memposisikan diri sebagai pihak yang independen. Ketika akuntan menemukan adanya fraud (kecurangan) oleh kliennya maka ia wajib mengungkapkannya sebagai bagian dari tugas profesionalnya.
Dengan  memahami  aturan etika secara benar maka diharapkan akuntan  mampu menegakkan integritas, objektifitas dan independensi dalam tugas profesionalnya.

Selasa, 27 Juni 2017

TUGAS 4 ADJECTIVE AND ADVERB


  • ADJECTIVE
  • Adjective adalah kata yang digunakan untuk menerangkan noun atau pronoun yang dapat berupa orang (person), tempat (place), binatang (animal), benda atau konsep abstrak. Kata sifat bahasa Inggris ini merupakan satu dari delapan part of speech.

          Example :


  • Frasa Dengan 1 Adj :
  1. Red Book
  2. Handsome boy
  3. Small Book
  4. Beautiful Eyes
  5. Black Shoes
  • Frasa Dengan 2 Adj :
  1. Gray Striped Wallet
  2. Long Red Skirt
  3. White Plain Shirt
  4. Big Black Glasses
  5. Beautiful Long Hijab
  • Frasa Dengan Lebih Dari 2 Adj :
  1. Curly Long Blonde Hair
  2. New Black Thick Book
  3. Beautiful Unique Natural Painting
  4. Beautiful Blooming Green Flowers
  5. Sweet Pandan Pie Cake
  • ADVERB
  • Adverb (kata keterangan) adalah kata yang berfungsi menerangkan kata kerja (verb), kata sifat (adjective), atau kata keterangan lainnya.
         1. Adverb of Frequency
             Adverb of frequency menerangkan seberapa sering suatu kegiatan dilakukan
         2. Adverb of Time
             Adverb of time (keterangan waktu) adalah kata yang menunjuk pada kapan
             sesuatu terjadi atau berada
         3. Adverb of Place
             Adverb of place menerangkan tempat

         Examples :
  • Adv
  1. The waiter smiles politely.
  2. The train run quickly
  3. He can speak English fluently.
  4. She talks fastly.
  5. She is working hard.
  • Adv of Frequency
  1. My mother often surprises me with her ideas.
  2. The worker sometimes feels bored with his work.
  3. Tina seldom washes her shoes by herself.
  4. The rich man is rarely at home.
  5. I do the exercise three times a week to gain my muscle mass.
  • Adv of Time :
  1. The children recently went home.
  2. I paid a call my friend in the hospital last week.
  3. She’ll have dinner at the cafe near her home tomorrow.
  4. They sent a box of tiramisu cake to me eleven days ago.
  5. Tita finally found a solution to solve her academic problem.
  • Adv of Place :
  1. Alma works in Bandung for a while.
  2. The jet plane flew above.
  3. You can find the mineral water everywhere.
  4. He is watching the football match there.
  5. My apartment faces north.

Sumber :





Jumat, 19 Mei 2017

TUGAS 3: CONDITIONAL SENTENCE



Today me and my boyfriend will go to the movies and dinner. My boyfriend name is Ganjar. We are close from the beginning of college. Initially he often asks college assignments because we go in the same class and the longer we communicate often.
We have been dating for quite a while, that is 2 years running. He is a diligent sport, and a very timely person. If he has free time, he will spend time with exercise. He is very contrary to me. I even very rarely exercise because of my too much laziness. And he is always mad at me if I just fall asleep and lazy to exercise. He always tells me that if I'm lazy to exercise, I'll be susceptible to various diseases.
And speaking of being on time, he was one of the most timely people I've ever met. , Even though our house is far away he always comes on time when to pick me up at home. I always try to be neat when he arrived to pick me up. If I have not been neat when he comes, he would not talk to me during the trip. And at home. And if he doesn't arrive on time, I could sleep first before she came to pick me up .But the fact is inversely proportional to it. But I am grateful that he is a timely man and not the other way around. If I was a  timely person  and he was not, I would always scold him.  But I am grateful that he is a patient person.
Although he came to pick me up on time, but we were always late to get tickets in the afternoon. If the streets are not jammed, we may not got movie tickets at night. And if we has do not got tickets on the curfew, we might not gone home too late.
He is very inversely proportional to me. But although we are different he can accept me and judge me. He really appreciate me. That's why until the moment I'm still with him and love him so much. These small differences we can understand together

Conditional Sentence Type 1 :
1.      If he has free time, he will spend time with exercise.
2.      If I am lazy to exercise, I will be susceptible to various diseases.

Conditional Sentence Type 2 :
1.        If I have not been neat when he comes, he would  not talk to me during the trip. And at home.
2.        If he doesn't arrive on time, I could sleep first before she came to pick me up.
3.        If I was a timely person  and he was not, I would always scold him.

Conditional  Sentence Type 3 :
1.        If the streets are not jammed, we may not get movie tickets at night.
2.        If we has  do not got tickets on the curfew, we might not gone home too late.




Referensi:
https://www.wordsmile.com/pengertian-rumus-contoh-kalimat-conditional-sentence-type-1